Tanaman obat
Laporan Praktekum Tanaman Obat, Oleh Herman Sihite
I. PENDAHULUAN
Tumbuhan obat-obatan dipergunakan oleh banyak negara di dunia. Kegunaan tumbuhan obat-obatan ini memang telah diketahui sejak ribuan tahun yang lalu. Misalnya pada abad ke 19 telah ditemukannya sebuah ilmu kedokteran yang ada hubungannya dengan tumbuhan obat-obatan, misalnya morfin yang berasal dari tumbuh-tumbuhan madat, yodium yang berasal dari rumput laut, dan lain-lain.
Dengan berjalannya waktu, maka perkembangan ilmu yang berhubungan dengan tumbuh-tumbuhan terus berlangsung. Hingga saat ini obat-obatan yang dipergunakan dokter-dokter zaman sekarang, ternyata sebagian besar berasal dari alam dan dihasilkan dari tumbuh-tumbuhan. Pemakaian tumbuhan obat-obatan ini tentu saja berdasarkan ilmu kedokteran tradisional rakyat.
Penggunaan tumbuhan obat ini sangat bermanfaat dan memberikan harapan besar bagi perkembangan kesehatan di dunia. Hingga akhirnya Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) mencoba mengintegrasikan ilmu obat-obatan rakyat ke dalam ilmu pengobatan yang modern.
Hal ini tentu saja merupakan sebuah angin segar bagi petani-petani tanaman obat karena tanaman obat dianggap memiliki prospek yang cukup cerah. Oleh karena itulah perkembangan tanaman obat harus terus ditingkatkan lagi produksinya baik kualitas maupun kuantitasnya.
Di dalam karya tulis ini penulis mencoba untuk memaparkan beberapa jenis tanaman obat di Indonesia mengenai sejarah, deskripsi dan juga menfaat dari tanaman obat itu sendiri. Penulisan ini bertujuan agar dapat memberi wawasan kepada kita tentang beberapa jenis tanaman obat yang ada di Indonesia.
II. JENIS-JENIS TANAMAN OBAT
2.1 KUNYIT (Curcuma domestica)
Kunyit merupakan tanaman obat yang diperkirakan berasal dari Binar, namun ada juga yang mengatakan bahwa tanaman kunyit berasal dari India. Tanaman kunyit ini berupa semak yang bersifat tahunan (perenial) dan tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur dan liar disekitar hutan atau bekas kebun. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan, Indonesia (Jawa), dan Filipina.
Di Indonesia, sentra penanaman kunyit di Jawa Tengah, dengan produksi mencapai 12.323 kg/ha. Di India, Srilanka, Cina, Haiti, dan Jamaika dengan produksi mencapai > 15 ton/ha.
Gambar 1. Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Val)
2.1.1 Klasifikasi Tanaman Kunyit
Berdasarkan tatanannya dalam tumbuh-tumbuhan, maka klasifikasi dari kunyit sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta
Sub-diviso : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zungiberaceae
Genus : Curcuma
Species : Val.
2.1.2 Deskripsi Tanaman Kunyit
Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang tanaman kunyit merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun kunyit adalah daun tunggal dengan bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm, bentuk pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Kunyit memiliki bunga majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu dengan panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm. Mahkota bunga berwarna putih atau kekuningan. Ujung dan pangkal daunnya runcing, dan tepi daunnya rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga kekuning-kuningan.
2.1.3 Jenis Tanaman Kunyit
Beberapa jenis kunyit yang paling terkenal dibanding kunyit lainnya adalah Jenis Curcuma domestica Val, C. domestica Rumph, C. longa Auct, u C. longa Linn, Amomum curcuma Murs.
2.1.4 Manfaat Tanaman Kunyit
Tanaman kunyit sering digunakan sebagai bahan obat tradisional, bahan baku industri jamu dan kosmetik, bahan bumbu masak, peternakan dan lain-lain. Disamping itu rimpang tanaman kunyit itu juga bermanfaat sebagai anti inflamasi, anti oksidan, anti mikroba, pencegah kanker, anti tumor, dan menurunkan kadar lemak darah dan kolesterol, serta sebagai pembersih darah. Di daerah Jawa, kunyit banyak digunakan sebagai ramuan jamu karena khasiatnya yang bisa menyejukkan, membersihkan, mengeringkan, dan menghilangkan gatal, dan menyembuhkan kesemutan.
2.2. TANAMAN LIDAH BUAYA (Aloe vera)
Lidah buaya dapat tumbuh pada kisaran kondisi iklim yang relatif luas. Sistem perakaran lidah buaya yang dangkal membuat tanaman lidah buaya tahan terhadap kondisi kekeringan. Untuk memperoleh produksi yang baik tanaman lidah buaya harus ditanam pada ketinggian kurang dari 1.000 meter dari permukaan laut, dengan suhu udara harian berkisar 270-3100 C dan curah hujan perbulan berkisar 50-300 mm.
Tanaman ini dapat tumbuh baik pada dataran rendah dengan penyinaran matahari penuh dan panas, secara Agroklimat Kota Pontianak memenuhi persyaratan sebagai daerah pengembangan lidah buaya, karena Kota Pontianak sebagai kota yang terletak tepat pada garis khatulistiwa (00) sehingga mendapat penyinaran matahari penuh sepanjang hari. Lidah buaya (Aloe vera) saat ini sedang digembor-gemborkan dikarenakan memiliki manfaat yang banyak. Klasifikasi, botani, dan manfaat lidah buaya sebagai berikut:
Gambar 2. Tanaman Lidah Buaya (Aloe vera)
2.2.1 Klasifikasi Tanaman Lidah Buaya
Berdasarkan tatanannya dalam tumbuh-tumbuhan, maka klasifikasi dari lidah buaya sebagai berikut:
Divisi : Spermatopyta
Sub Divisi : Angiospermae
Klas : Monocotyledoneae
Famili : Liliales
Ordo : Liliaceae
Genus : Aloe
Species : Aloe vera
2.2.2 Botani Lidah Buaya
Tanaman lidah buaya tidak memiliki cabang batang, sedangkan batang pohon akan terlihat setelah pelepah daun lidah buaya gugur atau dipanen berkali-kali, karena daun pelepah menempel pada batang utama. Daun tanaman berupa pelepah tidak mempunyai tangkai daun dengan panjang mencapai kisaran 40-60 cm dan lebar pelepah bagian bawah antara 8-13 cm dan tebal antara 2-3 cm. Tanaman lidah buaya mempunyai perakaran yang dangkal (sampai kedalaman ± 25 cm) dan berserabut, sehingga cocok ditanam pada lahan gembur seperti jenis organosol/gambut.
2.3 TANAMAN KECUR (Kaemferia galangal L.)
Di Indonesia tanaman kencur dikenal dengan beberapa sebuatan misalnya kencur, cikur, cekor, tekur, bataka, suha, dan lain-lain. Tanaman kencur diperkirakan berasal dari daerah Asia Tropika yang kemudian menyebar kemana-mana termasuk Indonesia.
2.3.1. Deskripsi Tanaman Kencur
Terna berbatang semu, mendukung daun yang jumlahnya berkisar antar 2-3 helai, letaknya saling berlawanan. Daunnya adalah daun tunggal, berdaging agak tebal, mudah patah, berbentuk elip melebar atau bundar telur sampai bundar. Tumbuh mendatar dengan tangkai yang pendek sekali sehingga terlihat hampir rata dengan tanah. Bunga berwarna putih dan bibir bunga berwarna ungu dengan bau yang sangat wangi. Bunga ini tumbuh diantara helaian daun dengan jumlah 4-12. Kelopak dan mahkota bunga berjumlah 3 helai dan bakal buah tenggelam.
2.3.2 Manfaat Tanaman Kencur
Tanaman kencur mengandung minyak atsiri sebanyak 0-0,2% berupa seniol, asam metal kanil, dan pendekaan.Tanaman kencur ini juga bisa dimanfaatkan sebagai obat tradisional, misalnya sebagai obat masuk angin, radang lambung, nyeri perut, bengkak, muntah-muntah, panas dalam, dan lain-lain.
2.4 TANAMAN KAPULAGA
Kapulaga termasuk suku Zingiberaceae yang dikenal pula dengan nama Rpnde Kardemen atau disebut juga amome a grapis. Di Indonesia terdapat 2 jenis kapulaga yaitu:
- Kapulaga Sabrang (Elettaria cardamonium)
Kapulaga sabrang lebih dikenal sebagai kapulaga asli yang memiliki jumlah minyak atsiri 5-8% dan juga memiliki bau yang aromatik.
- Kapulaga Lokal (Amomun cardamomun)
Kapulaga lokal sering disebut sebagai kapulaga palsu (false cardamom). Kapulaga ini memiliki kandungan minyak atsiri 2-3,5% dan baunya kurang aromatic.
2.4.1 Deskripsi Tanaman Kapulaga
Kapulaga sabrang memiliki tinggi tanaman 1,5-4 meter, sedangkan kapulaga sabrang tingginya 1-2,5 meter. Warna pangkal batang sabrang hijau, sedangkan local hijau kemerahan. Bentuk daun sabrang lanset memanjang (ujung dan pangkal meruncing), bagian bawah terdapat bulu-bulu halus menyerupai sutera, sedangkan local bentuk daunnya juga lanset ( ujung dan pangkal daun tidak begitu meruncing).
Tangkai buah tumbuh sejajar tegak dengan batang berwarna hijau mudah. Bentuk buah sabrang agak segitiga sedangkan local bundar agak pipih. Bentuk biji sabrang tandan majemuk dan local berbentuk bonggol.
2.4.2 Manfaat Tanaman Kapulaga
Kapulaga seringkali dimanfaatkan oleh industri jamu tradisional, industri makanan dan minuman, serta kosmetika.
2.5 TANAMAN AKAR WANGI
Tanaman akar wangi termasuk famili Graminae. Deskripsi dan manfaat dari akar wangi sebagai berkut.
2.5.1 Deskripsi Tanaman Akar Wangi
Tanaman akar wangi berumpun lebat, akar tunggang bercabang banyak, berwarna kuning pucat atau abu-abu sampai merah tua. Rumpun tanaman terdiri atas beberapa anak rumpun yang bisa dijadikan bibit. Dari akar-akar tunggal yang halus tersebut akan keluar tangkai daun yang panjangnya bisa mencapai 1,5-2 meter. Daunnya sedikit kaku, berwarna hijau sampai kelabu dengan panjang 75-100 cmdan tidak mengandung minyak. Bunga tanaman berwarna hijau atau ungu yang terletak di pucuk tangkai daun.
2.5.2 Manfaat Tanaman Akar Wangi
Setelah akar dikeringkan dan disuling bisa menghasilkan minyak yang bermanfaat untuk salah satu bahan pewangi, parfum, kosmetika, pewangi sabun dan obat tradisional seperti minyak urut, dan lain-lain. Minyak akar selain memberi bau wangi menyenangkan tetapi juga bersifat tahan lama.
2.6 TANAMAN MENGKUDU (Morinda citrifolia)
Tanaman mengkudu berasal dari Indonesia lalu menyebar ke kawasan tropis lainnya sampai ke India dan kepulauan Pasifik. Mengkudu dikenal dengan bermacam-macam nama daerah misalnya di Jawa dikenal dengan nama kemudu atau pace, di Sunda dikenal dengan nama cengkudu, orang Madura menyebutnya Kodhuk, dan Bali dengan Wungkudu.
2.6.1 Deskripsi Tanaman Mengkudu
Pertumbuhan batang mengkudu tidak terlalu besar, dan ketinggiannya hanya 4-6 meter. Bentuk batang bengkok, berdahan kaku, kulit batang kasar, dan memiliki akar tunggang yang tertancap di dalam. Warna kulit batang cokelat keabu-abuan atau coklat kekuningan dan tidak berbulu.
Letak daun mengkudu berhadap-hadapan. Daunnya berbentuk bulat telur sampai lanset (lonjong dan ujungnya meruncing) dengan lebar 8-15 cm dan panjang 10-20 cm. Tepi daun bergelombang, ujung daun lancip. Pangkal daun berbentuk pasak dengan ukuran 0,5-2,5 cm. Urat daun menyirip, daun hijau dan tidak berbulu.
Biji mengkudu bertipe bonggol bulat, berganggang dengan ukuran 1-4 cm, bijinya tumbuh di ketiak daun penumpu yang berhadapan. Bunga berkelamin dua. Benangsari tertancap di mulut mahkota. Bunga berwarana putih, kecil, bergerombol, dan harum baunya.
Dari kelopak bunga yang tumbuh menghasilkan buah bulat sebesar telur ayam dengan diameter 7,5-10 cm. Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramid, memiliki albumen yang keras serta ruang udara yang cukup jelas. Biji mengkudu memiliki daya kecambah yang tinggi. Perkecambahan terjadi setelah 35 hari setelah disemai. Dalam waktu 6 bulan tanaman bisa mencapai 1,2-1,5 meter.
2.6.2 Manfaat Tanaman Mengkudu
Mengkudu mengandung terpenoid, antrakuinon, asam arkobat, scorpoletin, serotin, damnacanthal, dan proxeconine. Mampu menyembuhkan berbagai penyakit, misalnya meningkatkan daya tahan tubuh, anti radang, analgetik, anti bakter, memberi energi tubuh, dan membantu suasana hati.
2.7 TANAMAN KUMIS KUCING (Orthosiphon spp.)
Kumis kucing merupakan tanaman obat yang berbatang basah tegak. Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia. Beberapa daerah memiliki nama tertentu untuk tanaman ini misalnya Kumis kucing (Melayu – Sumatra), kumis kucing (Sunda), remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koceng (Madura). Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants / java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Hingga saat ini, sentra penanaman kumis kucing banyak terdapat di Pulau Jawa, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi.
Gambar 4. Tanaman Kumis Kucing (Orthosiphon spp.)
2.7.1 Klasifikasi Tanaman Kumis Kucing
Berdasarkan tatanannya dalam tumbuh-tumbuhan, maka klasifikasi dari kumis kucing sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Keluarga : Lamiaceae
Genus : Orthosiphon
Spesies : Orthosiphon spp.
2.7.2 Deskripsi Tanaman Kumis Kucing
Tanaman kumis kucing adalah tanaman terna yang tumbuh tegak, pada buku-bukunya berakar tetapi tidak tampak nyata, tinggi tanaman bisa mencapai 2 m. Batangnya bersegi empat agak beralur. Helai daun kumis kucing berbentuk bundar telur lonjong, lanset, lancip atau tumpul pada bagian ujungnya, ukuran daun panjang 1–10cm dan lebarnya 7.5mm– 1.5cm, urat daun sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai daun 7–29 cm. Kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota berwarna ungu pucat atau putih, dengan ukuran panjang 13–27 mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek yang berwarna ungu atau putih, panjang tabung 10–18 mm, panjang bibir 4.5–10 mm, helai bunga tumpul, bundar. Benang sari ukurannya lebih panjang dari tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1.75–2 mm.
2.7.2 Jenis Tanaman Kumis Kucing
Klon kumis kucing yang ditanam di Indonesia adalah Klon berbunga putih dan ungu. Spesies kumis kucing yang terdapat di Pulau Jawa adalah O. aristatus, O. thymiflorus, O. petiolaris dan O. tementosus var. glabratus.
2.7.3 Manfaat Tanaman Kumis Kucing
Daun kumis kucing basah maupun kering sering digunakan sebagai bahan obat-obatan. Di Indonesia daun yang kering dipakai (simplisia) sebagai obat yang memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik) sedangkan di India untuk mengobati rematik. Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional sebagai upaya penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu daun tanaman ini juga bermanfaat untu pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan penyakit syphilis.
2.7.4 Perbanyakan Tanaman Kumis Kucing
Cara yang paling mudah untuk mengembangkan tanaman kumis kucing adalah dengan cara perbanyakan vegetatif yaitu dengan menggunakan stek batang atau cabang. Bahan tanaman diambil dari rumpun yang tumbuhnya normal, subur dan sehat. Cara-cara perbanyakan tanaman kumis kucing ini sebagai berikut:
- Pilih batang/cabang yang tidak terlalu tua atau muda dan sudah berkayu.
- Potong batang dengan pisau tajam atau gunting pangkas yang steril.
- Selanjutnya batang dipotong-potong menjadi stek berukuran 15–20 cm dan berbuku 2-3 buah.
- Sebagian daun dikurangi dengan tujuan untuk mengurangi penguapan air.
- Adapun kebutuhan bibit untuk 1 hektar dengan jarak tanam 40 x 40 cm diperlukan 50.000-62.500 stek/ha.
Setelah stek siap, maka stek sebaiknya ditanam dulu di persemaian dengan jarak tanam 10×10 cm. Stek yang masih segar langsung ditanam di lahan yang telah diolah sedalam 20 cm setelah itu disiram 1-2 kali sehari tergantung dari cuaca dan hujan yang turun.
2.8 TANAMAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza ROXB.)
Temulawak merupakan tumbuhan obat dan memiliki rumpun yang berbatang semu. Kawasan Indo-Malaysia merupakan tempat awal penyebaran temulawak. Saat ini tanaman ini selain di Asia Tenggara dapat ditemui pula di Cina, IndoCina, Bardabos, India, Jepang, Korea, di Amerika Serikat dan Beberapa negara Eropa. Temulawak juga sering disebut dengan nama koneng gede di Jawa Barat dan nama temu lobak di Madura.
Gambar 3. Bunga Dan Rimpang Temu Lawak (Curcuma xanthorrhiza ROXB.)
2.8.1 Klasifikasi Tanaman Temulawak
Berdasarkan tatanannya dalam tumbuh-tumbuhan, maka klasifikasi dari temulawak sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Zingiberales
Keluarga : Zingiberaceae
Genus : Curcuma
Spesies : Curcuma xanthorrhiza ROXB.
2.8.2 Deskripsi Tanaman Temulawak
Temulawak adalah tanaman terna yang berbatang semu dengan tinggi lebih dari 1m tetapi kurang dari 2m, berwarna hijau atau coklat gelap. Akar rimpangnya terbentuk dengan sempurna dan bercabang kuat, berwarna hijau gelap. Tiap batang mempunyai daun 2 – 9 helai dengan bentuk bundar memanjang sampai bangun lanset, warna daun hijau atau coklat keunguan terang sampai gelap, panjang daun 31 – 84cm dan lebar 10 – 18cm, panjang tangkai daun termasuk helaian 43 – 80cm.
Perbungaan tanaman temulawak berbentuk lateral, tangkai ramping dan sisiknya berbentuk garis. Panjang tangkai temulawak adalah 9–23 cm dan lebar 4 – 6cm, memiliki daun pelindung yang banyak dan panjangnya melebihi atau sebanding dengan mahkota bunga. Kelopak bunga temulawak berwarna putih berbulu dengan panjang 8–13 mm, mahkota bunga berbentuk tabung dengan panjang keseluruhan 4,5 cm, helaian bunga berbentuk bundar memanjang berwarna putih dengan ujung yang berwarna merah dadu atau merah, panjang 1,25–2 cm dan lebar 1 cm.
2.8.3 Manfaat Tanaman Temulawak
Bagian yang dimanfaatkan dari tanaman temulawak adalah rimpangnya yang sering digunakan sebagai bahan jamu godog. Rimpang temulawak mengandung 48-59,64 % zat tepung, 1,6-2,2 % kurkumin dan 1,48-1,63 % minyak atsiri dan dipercaya dapat meningkatkan kerja ginjal serta anti inflamasi. Manfaat lain dari rimpang tanaman ini adalah sebagai obat jerawat, meningkatkan nafsu makan, anti kolesterol, anti inflamasi, anemia, anti oksidan, pencegah kanker, dan anti mikroba.
2.8.4 Cara Perbanyakan Temulawak
Perbanyakan tanaman temulawak berasal dari rimpang temulawak yang telah melewati masa dormansi. Perbanyakan tanaman temulawak menggunakan rimpang-rimpangnya baik berupa rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang). Keperluan rimpang induk adalah 1.500-2.000 kg/ha dan rimpang cabang sebanyak 500-700 kg/ha. Rimpang untuk bibit diambil dari tanaman tua yang sehat berumur 10 -12 bulan.
Penyiapan Bibit diawali dengan membongkar tanaman induk kemudian akar dan tanah yang menempel pada rimpang dibersihkan, lalu rimpang induk dari rimpang anak dipisahkan. Rimpang induk dibelah menjadi empat bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dan dijemur selama 3-4 jam selama 4-6 hari berturut-turut. Setelah itu rimpang dapat langsung ditanam. Rimpang anakan harus disimpan dulu selama 1-2 bulan sampai keluar tunas baru, barulah bisa digunakan menjadi bibit.
Penyiapan bibit dapat pula dilakukan dengan menimbun rimpang temulawak di dalam tanah pada tempat teduh dan meyiraminya dengan air bersih setiap pagi/sore hari sampai keluar tunas. Rimpang yang telah bertunas segera dipotong-potong menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap ditanam. Bibit yang berasal dari rimpang induk lebih baik daripada rimpang anakan.
2.9 TANAMAN KINA (Chinchonna SPP.)
Kina merupakan tanaman obat yang berbentuk pohon dan berasal dari Amerika Selatan di sepanjang pegunungan Andes meliputi wilayah Venezuela, Colombia, Equador, Peru sampai Bolivia. Daerah tersebut meliputi hutan-hutan pada ketinggian 900-3.000 m dpl. Bibit tanaman kina yang masuk ke Indonesia tahun 1852 berasal dari Bolivia, tetapi tanaman kina yang tumbuh dari biji tersebut akhirnya mati. Pada tahun 1854 sebanyak 500 bibit kina dari Bolivia ditanam di Cibodas dan tumbuh 75 pohon yang terdiri atas 10 klon.
Beberapa sebutan nama daerah untuk kina antara lain kina, kina merah, kina kalisaya, dan kina ledgeriana. Sentra produksi kina di Indonesia adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatra Barat.
2.9.1 Klasifikasi Tanaman Kina
Berdasarkan tatanannya dalam tumbuh-tumbuhan, maka klasifikasi dari kina sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Keluarga : Rubiaceae
Genus : Chinchona
Spesies : Chinchona spp.
2.9.2 Deskripsi Tanaman Kina
Tanaman kina terdiri dari beberapa varietas antara lain C. succirubra, C. calisaya, C. ledgeriana. Deskripsi dari masing-masing varietas kina tersebut sebagai berikut:
- 1. C. succirubra
Tanaman kina berupa pohon dengan tinggi hingga 17 m, cabangnya berbentuk galah yang bersegi 4 pada ujungnya. Pada awalnya berbulu padat dan pendek kemudian agak gundul dan berwarna merah. Letaknya daun berhadapan dan berbentuk elips, akhirnya lama kelamaan menjadi lancip atau bundar. Warna daunnya adalah hijau sampai kuning kehijauan, daun gugur berwarna merah. Tulang daun terdiri dari 11 – 12 pasang, agak menjangat, berbentuk galah, daun penumpu sebagian berwarna merah, sangat lebar. Ukuran daun panjang 24 – 25 cm, lebar 17 –19 cm. Kelopak bunga berbentuk tabung, bundar, bentuk gasing,, bergigi lebar bentuk segitiga, lancip. Bunganya wangi, bentuk bulat telur sampai gelendong.
- 2. C. calisaya
Letak daun berhadapan dengan bentuk bundar sungsang lonjong, panjang 8 –15cm, lebar 3 – 6 cm, permukaan bagian bawah berbulu halus seperti beludru terutama pada daun yang masih muda, panjang tangkai 1 – 1,5 cm. Daun penumpu lebih panjang dari tangkai daun, bila sudah terbuka daun penumpu akan gugur. Bunganya berbentuk malai, memiliki bulu halus, bunga mengumpul di setiap ujung perbungaan, kelopak bentuk tabung dan bergigi pada bagian atasnya. Bunga bentuk bintang, berbau wangi dengan ukuran panjang 9 mm, helaian mahkota bunga bagian dalam berwarna merah menyala, berbulu rapat dan pendek, panjang benang sari setengah bagian tabung bunga. Buah berwarna kemerahan bila masak, bentuk seperti telur panjang 4 mm dan bersayap.
- 3. C. ledgeriana
Tinggi pohon antara 4 – 10m, cabangnya berbentuk segi empat, berbulu halus atau lokos. Daunnya elip sampai lanset, bagian pangkal lancip dan tirus, ujung daun lancip dan jorong, helaian tipis, berwarna ungu terang, sedangkan daun mudanya berwarna kemerahan. Tangkai daun tidak berbulu, berwarna hijau atau kemerahan dengan panjang tangkai 3 – 6 mm. Ukuran panjang daun 25,5 – 28,5 cm dan lebarnya 9 – 13 cm, namun adakalanya panjang 7 cm dan lebar 2 cm. Daun penumpu bundar sampai lonjong panjang 17 – 32 mm dan tidak berbulu. Mahkota bunga berwarna kuning agak putih dan berbau wangi, bentuk melengkung dengan ukuran panjang 8 – 12 mm. Panjang malai 7 – 18 cm dan gagang segi empat sangat pendek dan berbulu rapat. Kelopak bunga bentuk limas sungsang 3 – 4 mm, tabung tebal ditutupi bulu warna putih, tabung mahkota bunga bagian luarnya berbulu pendek tapi bagian dalamnya gundul dengan 5 sudut. Tangkai sari tidak ada. Buah lanset sampai bulat telur dengan ukuran panjang 8 – 12 mm dan lebar 3 – 4 mm. Biji lonjong sampai lanset panjang 4 – 5 mm.
2.9.3 Jenis Tanaman Kina
Gambar 5. Tanaman Kina (Chinchonna spp.)
Dua spesies kina yang penting di Indonesia adalah C. succirubra Pavon (kina succi) yang dipakai sebagai batang bawah dan C. ledgriana (kina ledger) sebagai bahan tanaman batang atas.Klon-klon unggul yang dianjurkan adalah antara lain: Cib 6, KP 105, KP 473, KP 484 dan QRC. C. calisaya Wedd. (kina kalisaya) juga banyak dikenal dan ditanam oleh masyarakat.
2.9.4 Manfaat Tanaman Kina
Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna untuk obat. Di antara alkaloid tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu kinine untuk penyakit malaria dan kinidine untuk penyakit jantung. Manfaat lain dari kulit kina ini antara lain adalah untuk depuratif, influenza, disentri, diare, dan tonik.
2.10 TANAMAN KARA (Dolichos lablab)
2.10.1 Deskripsi Tanaman Kara
Tanaman kara merupakan famili Leguminosae yang merambat dan cukup tahan kekeringan. Ada jenis kara yang beracun, yaitu kara Bedog yang berbiji besar, berwarna kuning, coklat atau merah. Untuk jenis tersebut perlu dicuci sampai racunnya hilang, biji direbus berkali-kali dengan memakai air yang baru.
2.10.2 Manfaat Tanaman Kara
Bagian yang sering dimanfaatkan dari tanaman kara ini adalah Polong muda atau biji polong yang telah tua. Polong muda atau biji yang telah tua merupakan bahan pembuat tempe bongkrek yang terkadang karena salah dalam pembuatannya sering menimbulkan keracunan bahkan kematian.
2.10.3 Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan tanaman kara ini dilakukan dengan cara perbanyakan generatif yaitu menggunakan biji yang telah tua.
2.11 TANAMAN KATUK (Sauropus androgynus)
2.11.1 Deskripsi Tanaman Katuk
Tanaman katuk merupakan tanaman perdu dengan tinggi mencapai 3 m. Banyak mengandung protein dan vitamin A.
2.11.2 Manfaat Tanaman Katuk
Ditanam sebagai tanaman pagar. Baik untuk orang yang sakit/baru sembuh dan ibu yang sedang menyusui. Bagian tanaman yang digunakan adalah pucuk muda dari daun katuk tersebut.
2.11.3 Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan tanaman kara biasanya menggunakan stek batang (15-20 cm panjangnya).
2.12 TANAMAN JAHE (Zingiber officinale)
Jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itulah kedua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obatan tradisional.
Jahe merupakan tanaman obat yang memiliki rumpun berbatang semu, jahe termasuk dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae) dan se-famili dengan temu-temuan lainnya seperti temu lawak (Cucuma xanthorrizha), temu hitam (Curcuma aeruginosa), kunyit (Curcuma domestica), kencur (Kaempferia galanga), lengkuas (Languas galanga) dan lain-lain.
DI setiap daerah jahe dikenal dengan beberapa sebutan misalnya jahe (Sunda), halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), jae (Jawa dan Bali), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate), dan sebagainya.
Gambar 6. Tanaman Jahe (Zingiber officinale)
2.12.1 Klasifikasi Tanaman Jahe
Berdasarkan tatanamanya dalam tumbuh-tumbuhan, maka klasifikasi dari jahe sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub-divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Species : Zingiber officinale
2.12.2 Deskripsi Tanaman Jahe
Tanaman jahe memiliki batang semu dengan tinggi 30 cm – 1 m. Tangkai daun jahe berbulu dengan panjang 2 – 4 mm. Daunnya sempit dengan panjang 15 – 23 mm dan lebar 8 – 15 mm. Bentuk lidah daun memanjang dengan panjang 7,5 – 10 mm dan tidak berbulu tapi seludangnya agak berbulu.
Perbungaan jahe berupa malai yang tersembul dipermukaan tanah yang berbentuk tongkat atau bundar telur sempit dan sangat tajam. Panjang malai 3,5 – 5 cm dan lebar 1,5 – 1,75 cm. Gagang bunga hampir tidak berbulu dan memiliki panjang 25 cm, rahis berbulu jarang. Pada gagang terdapat 5 – 7 buah sisik yang berbentuk lanset, dan letaknya berdekatan dengan panjang 3 – 5 cm. Daun pelindungnya berbentuk bundar telur terbalik dan bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah dengan panjang 2,5 cm dan lebar 1 – 1,75 cm.
Mahkota bunga jahe berbentuk tabung 2 – 2,5 cm, helainya agak sempit dan berbentuk tajam dengan warna kuning kehijauan dan memiliki panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm. Bibir mahkota berwarna ungu gelap, berbintik-bintik berwarna putih kekuningan dengan. Mahkota terdiri dari kepala sari yang berwarna ungu dan tangkai putik.
Kulit luar dari rimpang jahe adalah coklat kekuningan, dan bila rimpang dipotong berwarna kuning atau jingga.
2.12.3 Jenis Tanaman
Berdasarkan ukurannya, bentuk dan warna rimpangnya maka jahe dibedakan menjadi 3 jenis yang umumnya dikenal dengan 3 varietas jahe, yaitu :
- Jahe Gajah Atau Jahe Badak
Rimpang jahe badak lebih besar dan gemuk dari varietas jahe lainnya, memiliki ruas rimpang yang lebih menggembung dari kedua varietas lainnya. Jenis jahe ini bias dikonsumsi baik saat berumur muda maupun berumur tua, baik sebagai jahe segar maupun jahe olahan.
- Jahe Sunti Atau Jahe Emprit
Ruasnya kecil, agak rata sampai agak sedikit menggembung. Jahe ini selalu dipanen setelah berumur tua. Kandungan minyak atsirinya lebih besar dari pada jahe gajah, sehingga rasanya lebih pedas, disamping seratnya tinggi. Jahe ini cocok untuk ramuan obat-obatan, atau untuk diekstrak oleoresin dan minyak atsirinya.
- Jahe merah
Rimpang jahe merah berwarna merah dan lebih kecil dari pada jahe putih kecil. Jahe merah selalu dipanen setelah tua, dan juga memiliki kandungan minyak atsiri yang sama dengan jahe kecil, sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan.
2.12.4 Manfaat Tanaman Jahe
Banyak manfaat yang bisa didapatkan dari jahe misalnya rimpang jahe dapat digunakan sebagai bumbu masak, pemberi aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai.minuman. Jahe juga dapat digunakan pada industri obat, minyak wangi, industri jamu tradisional, diolah menjadi asinan jahe, dibuat acar, lalap, bandrek, sekoteng dan sirup.
Jahe juga sering digunakan sebagai pestisida oleh petani cabe. Dalam perdagangan jahe dijual dalam bentuk segar, kering, jahe bubuk dan awetan jahe. Disamping itu banyak juga hasil olahan jahe misalnya minyak astiri dan koresin yang diperoleh dengan cara penyulingan yang berguna sebagai bahan pencampur dalam minuman beralkohol, es krim, campuran sosis dan lain-lain.
Manfaat jahe secara pharmakologi antara lain adalah sebagai karminatif (peluruh kentut), anti muntah, pereda kejang, anti pengerasan pembuluh darah, peluruh keringat, anti inflamasi, anti mikroba dan parasit, anti piretik, anti rematik, serta merangsang pengeluaran getah lambung dan getah empedu.
2.13. TANAMAN KECIPIR (Psophocarpus tetragonolobus)
2.12.1 Deskripsi Tanaman Kecipir
Tanaman kecipir merupakan tanaman yang pertumbuhannnya merambat, memiliki ukuran batang lebih besar dibandingkan kara. Bentuk buahnya empat siku bergerigi. Banyak mengandung karbohidrat, protein, kalsium, fosfor, vitamin C dan provitamin A.
2.12.2 Manfaat Tanaman Kecipir
Tanaman kecipir dapat mengobati sariawan, selain itu biji polong yang telah tua dan umbi Biji yang tua dapat diolah menjadi snack yang gurih.
2.12.3 Perbanyakan Kecipir
Tanaman kecipir dapat diperbanyak dengan menggunakan biji yang telah tua. Biji kecipir tersebut hendaknya disemaikan terlebih dulu, setelah berkecambah baru dimasukkan ke polybag atau langsung ke lapangan
2.14 TANAMAN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.)
Jambu biji merupakan salah satu tanaman buah jenis perdu yang dalam bahasa Inggris disebut Lambo guava. Tanaman ini berasal dari Brazilia Amerika Tengah lalu menyebar ke Thailand kemudian ke negara Asia lainnya seperti Indonesia. Hingga saat ini jambu biji terus dibudidayakan dan menyebar luas di daerah-daerah Jawa. Jambu biji sering disebut juga jambu klutuk, jambu siki, atau jambu batu.
Gambar 7. Jambu Biji (Psidium guajava L. )
2.14.1 Deskripsi Tanaman Jambu Biji
Jambu biji termasuk famili Myrtacae. Tanaman jambu biji berasal dari biji dan dapat tumbuh sampai dengan ketinggian 5-10 meter. Batang pokoknya bercabang bebas dari bawah ke atas. Kulitnya batang coklat keabu-abuan dan mudah mengelupas. Permukaan batang licin dan bersih. Kayu jambu biji termasuk kayu yang halus dan tidak mudah patah. Cabang muda berbentuk siku empat, bersirip hijau kekuning-kuningan hingga merah tua warnanya dan berbulu keabu-abuan.
Daunnya tunggal dan letaknya berhadapan. Ada yang berbentuk bulat panjang berujung dempak atau memanjang berujung agak lancip. Sepertinya ada korelasi antarbentuk daun dan bentuk buah.
Bunga tanaman jambu biji tumbuh di ketiak daun atau pucuk ranting, tunggal atau berkelompok hingga lebih dari tiga buah. Berkelamin dua, banyak benangsarinya dan berputik satu. Buah yang besar dihasilkan oleh ranting yang sehat dan kuat tumbuhnya. Bunga jambu biji yang harum baunya dan banyak mengandung nectar, dan bersari banyak.
Pada umumnya buah jambu biji berbau wangi hingga hambar. Rasanya bermacam-macam yaitu manis, asam manis hingga masam. Buah jambu biji yang masih muda berwarna hijau lama-kelamaan akan kekuningan. Buah yang sudah masak lunak, mudah rusak dan mudah membusuk. Buah jambu yang sudah dipetik tidak bisa ditingkatkan kematangannya melalui pemeraman.
Akar dari jambu biji sangat kuat tumbuhnya hingga dapat menembus tanah yang keras dan berbatu-batu. Akar datarnya berada tidak di dalam tanah. Perakaran jambu biji tahan genangan air yang cukup lama.
2.14.2 Jenis Tanaman Jambu Biji
Dari sejumlah jenis jambu biji, terdapat beberapa varietas jambu biji yang digemari dan dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomisnya yang relatif lebih tinggi diantaranya:
- Jambu sukun (jambu tanpa biji yang tumbuh secara partenokarpi dan bila tumbuh dekat dengan jambu biji akan cenderung berbiji kembali).
- Jambu bangkok (buahnya besar, dagingnya tebal dan sedikit bijinya, rasanya agak hambar). Setelah diadakan percampuran dengan jambu susu rasanya berubah asam-asam manis.
- Jambu merah.
- Jambu pasar minggu.
- Jambu sari.
- Jambu apel.
- Jambu palembang.
- Jambu merah getas.
2.14.3 Manfaat Tanaman Jambu Biji
Jambu biji mengandung vitamin A dan vitamin C yang tinggi, dengan kadar gula 8%, selain itu jambu biji juga mempunyai rasa dan aroma yang khas disebabkan oleh senyawa eugenol, oleh karena itulah jambu biji sering dijadikan makanan buah segar maupun olahan yang mempunyai gizi.
Selain itu jambu biji juga bisa dijadikan sebagai pohon pembatas di pekarangan dan sebagai tanaman hias. Daun dan akarnya juga dapat digunakan sebagai obat tadisional,dan kayunya dapat dibuat berbagai alat dapur karena memilki kayu yang kuat dan keras.
2.14.4 Perbanyakan Tanaman
Jambu biji biasanya dapat diperbanyak dengan beberapa cara yaitu dengan cara generatif dan vegetatif. Syarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
- Buah yang sudah cukup tua.
- Buahnya tidak jatuh hingga pecah.
- Pengadaan bibit lebih dari satu jenis untuk menjamin kemungkinan adanya persarian bersilang.
2.15 TANAMAN JAMBU METE (Annacardium occidentale L.)
Jambu mete merupakan tanaman buah berupa pohon yang berasal dari Brasil Tenggara. Tanaman ini dibawa oleh pelaut Portugis ke India 425 tahun yang lalu, kemudian menyebar ke daerah tropis dan subtropis lainnya seperti Bahana, Senegal, Kenya, Madagaskar, Mozambik, Srilangka, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Di antara sekian banyak negara produsen, Brasil, Kenya, dan India merupakan negara pemasok utama jambu mete dunia.
Jambu mete tersebar di seluruh Nusantara dengan nama berbeda-beda (di Sumatera Barat: jambu erang/jambu monye, di Lampung dijuluki gayu, di daerah Jawa Barat dijuluki jambu mede, di Jawa Tengah dan Jawa Timur diberi nama jambu monyet, di Bali jambu jipang atau jambu dwipa, dan di Sulawesi Utara disebut buah yaki.
Gambar 8. Jambu Mete (Annacardium occidentale L.)
2.15.1 Klasifikasi Jambu Mete
Berdasarkan tatanannya dalam tumbuh-tumbuhan, maka klasifikasi dari Jambu Mete sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Sapindales
Famili : Anacardiaceae
Genus : Anacardium
Spesies : Annacardium occidentale L.
2.15.2 Deskripsi Jambu Mete
Tanaman jambu mete memiliki akar tunggang dan akar serabut. Akar tunggang menembus tanah menuju pusat bumi sampai kedalaman 5 m lebih, sedangkan akar-akar serabut tumbuh menyebar dalam tanah secara horizontal. Sedangkan batang tanaman jambu biji merupakan batang sejati, berkayu, dan keras. Batang tanaman bercabang dan memiliki banyak ranting sehingga dapat membentuk mahkota yang tinggi dan indah yaitu antara 10-15 m.
Daun tanaman jambu mete merupakan daun tunggal dan upihnya keras seperti kulit. Daun jambu mete tumbuh pada cabang dan ranting secara berseling-seling. Daunnya berbentuk bulat hingga oval atau meruncing pada bagian ujungnya. Daun jambu mete berukuran panjang 10-20 cm, dan lebar 5-10 cm, dan panjang tangkai daun 0,5-1 cm. Daun yang muda berwarna cokelat kemerah-merahan, sedangkan daun yang tua berwarna hijau gelap.
Bunga tanaman jambu mete tumbuh pada ujung tunas atau ranting. Bunganya berbentuk piramida, kerucut, dan berbentiuk tidak teratur. Bunga jambu mete akan mekar sekitar 5-6 minggu setelah tumbuh tunas bunga. Bunga terdiri atas 5-6 helai kelopak, 5-6 helai daun tajuk (mahkota), 8-10 benang sari, dan 1 putik. Setelah penyerbukan bunga akan membentuk buah masak selama 2-3 bulan.
Buah jambu mete terdiri atas dua bagian, yakni buah sejati (kacang mete) dan buah semu (tangkai buah yang membesar). Kacang mete berbentuk seperti ginjal yang melekat pada bagian ujung buah semu dan memiliki ukuran berat yang bervariasi yaitu 5-6 gram dan panjang 2,5-3,5 cm, lebar 1,0-1,5 cm. Kacang mete muda berwarna hijau, sedangkan kacang mete tua berwarna cokelat keabu-abuan.
2.15.3 Jenis Tanaman Jambu Mete
Jambu mete mempunyai puluhan varietas, di antaranya ada yang berkulit putih, merah, merah muda, kuning, hijau kekuningan dan hijau.
2.15.4 Manfaat Tanaman Jambu Mete
Tanaman jambu mete merupakan komoditi ekspor yang banyak manfaatnya, mulai dari akar, batang, daun, dan buahnya. Selain itu juga biji mete (kacang mete) dapat digoreng untuk makanan bergizi tinggi. Buah mete semu dapat diolah menjadi beberapa bentuk olahan seperti sari buah mete, anggur mete, manisan kering, selai mete, buah kalengan, dan jem jambu mete. Kulit kayu jambu mete mengandung cairan berwarna coklat. Apabila terkena udara, cairan tersebut berubah menjadi hitam. Cairan ini dapat digunakan untuk bahan tinta, bahan pencelup, atau bahan pewarna. Selain itu, kulit batang pohon jambu mete juga berkhasiat sebagai obat kumur atau obat sariawan. Batang pohon mete menghasilkan gum atau blendok untuk bahan perekat buku. Selain daya rekatnya baik, gum juga berfungsi sebagai anti ngengat yang sering menggerogoti buku. Akar jambu mete berkhasiat sebagai pencuci perut. Daun Jambu mete yang masih muda dimanfaatkan sebagai lalap, terutama di daerah Jawa Barat. Daun yang tua dapat digunakan untuk obat luka bakar.
Tanaman jambu mete banyak tumbuh di Jawa Tengah (Jepara, Wonogiri), Jawa Timur (Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pasuruan, dan Ponorogo), dan di Yogyakarta (Gunung Kidul, Bantul, dan Sleman). Di luar Pulau Jawa, Jambu mete banyak ditanam di Bali (Karangasem), Sulawesi Selatan (Kepulauan Pangkajene, Sidenreng, Soppeng, Wajo, Maros, Sinjai, Bone, dan Barru), Sulawesi Tenggara (Muna). dan NTB (Sumbawa Besar, Dompu, dan Bima).
2.16 TANAMAN PALA (Myristica fragan haitt)
Pala (Myristica fragan Haitt) merupakan tanaman buah berupa pohon tinggi asli Indonesia, karena tanaman ini berasal dari Banda dan Maluku. Tanaman pala menyebar ke Pulau Jawa, pada saat perjalanan Marcopollo ke Tiongkok yang melewati pulau Jawa pada tahun 1271 sampai 1295 pembudidayaan tanaman pala terus meluas sampai Sumatera. Jika dilihat data pada tahun 1971 lalu, luas tanaman pala di Indonesia sekitar 22.809 hektar dengan daerah penyebaran yang terpusat di Sulawesi, Irian Jaya. Aceh dan Maluku.
Gambar 9. Tanaman Pala (Myristica fragrans Houtt)
2.16.1 Deskripsi Tanaman Pala
Batang tanaman pala tumbuhnya tegak dan mencapai ketinggian 18-20 m lebih. Bentuk batang bulat, cabang primernya membentuk krans (karangan) melingkari batang pokok. Warna kulit batang abu-abu kelam atau hijau tua. Mahkota pohon berbentuk pyramid yang indah. Pohon penghasil bunga betina cabang primernya mendatar tumbuhnya sedangkan yang menghasilkan bunga jantan membentuk siku lancip. Ciri-ciri pohon betina dan jantan tersebut akan jelas pada saat tanaman berumur + 5 tahun.
Daun pala berbentuk bulat telur atau elips, pangkal dan pucuknya meruncing. Warna bagian bawah hijau kebiru-biruan muda dan bagian atasnya hijau tua. Daun pala mengandung minyak atsiri.
Tanaman pala dapat berbunga berumah dua. Bunganya berbentuk malai. Malai bunga jantan terdiri dari 1-10 bunga dan malai bunga betina terdiri hanya 1-3 bunga saja. Bunganya memiliki panjang 9 mm, harum, kuning muda, berdaging, dan halus.
Biji pala tunggal, berkeping dua dilindungi oleh tempurung, walaupun tidak tebal, namun cukup keras. Bentuk bijinya bulat telur hingga lonjong. Tempurung berbentuk bulat telur hingga lonjong, bila sudah cukup tua warnanya akan coklat dan permukaannya licin, namun jika masih muda permukaannya keriput.
Akar pala membentuk akar tunggang yang dalam. Akar lateralnya serabut yang cukup tebal, dangkal letaknya dibawah permukaan tanah, oleh karena itu mudah diserang erosi dan mudah kekeringan.
2.16.2 Jenis Tanaman
Tanaman pala memiliki beberapa jenis, antara lain:
- Myristica fragrans Houtt,
- Myristica argentea Ware,
- Myristica fattua Houtt,
- Myristica specioga Ware,
- Myristica Sucedona BL,
- Myristica malabarica Lam.
Jenis pala yang banyak diusahakan adalah terutama Myristica fragrans, sebab jenis pala ini mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi daripada jenis lainnya. Disusul jenis Myristica argentea dan Myristica fattua. Jenis Myristica specioga, Myristica sucedona, dan Myristica malabarica produksinya rendah sehingga nilai ekonomisnya pun rendah pula.
2.16.3 Manfaat Tanaman Pala
Selain sebagai rempah-rempah, pala juga berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak digunakan dalam industri pengalengan, minuman dan kosmetik.
- Kulit batang dan daun : Batang/kayu pohon pala yang disebut dengan “kino” hanya dimanfaatkan sebagai kayu bakar. Kulit batang dan daun tanaman pala menghasilkan minyak atsiri
- Fuli : Fuli adalah benda untuk menyelimuti biji buah pala yang berbentuk seperti anyaman pala, disebut “bunga pala”. Bunga pala ini dalam bentuk kering banyak dijual didalam negeri.
- Biji pala : Biji pala tidak pernah dimanfaatkan oleh orang-orang pribumi sebagai rempah-rempah. Buah pala sesungguhnya dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang disebabkan oleh kedinginan dan masuk angin dalam lambung dan usus. Biji pala sangat baik untuk obat pencernaan yang terganggu, obat muntah-muntah dan lain-lainya.
- Daging buah pala: Daging buah pala sangat baik dan sangat digemari oleh masyarakat jika telah diproses menjadi makanan ringan, misalnya: asinan pala, manisan pala, marmelade, selai pala, kKristal daging buah pala.
2.16.4 Perbanyakan Tanaman Pala
Perbanyakan tanaman pala dapat dilakukan melalui dua cara yaitu cara generatif dan secara vegetatif. Perbanyak tanaman tersebut sebagai berikut:
A. Perbanyakan Generatif
Perbanyakan dengan biji dapat dilakukan dengan mengecambahkan biji. Dalam hal ini biji yang digunakan berasal dari:
- Biji sapuan: biji yang dikumpulkan begitu saja tanpa diketahui secara jelas dan pasti mengenai pohon induknya.
- Biji terpilih: biji yang asalnya atau pohon induknya diketahui dengan jelas. Dalam hal ini ada 3 macam biji terpilih, yaitu:
- Biji legitiem, yaitu biji yang diketahui dengan jelas pohon induknya (asal putiknya jelas diketahui);
- Biji illegitiem, yaitu biji yang berasal dari tumpang sari tidak diketahui, tetapi asal putiknya jelas diketahui;
- Biji Propellegitiem, yaitu biji yang terjadi hasil persilangan dalam satu kebun yang terdiri dua klon atau lebih.
Biji-biji yang akan digunakan sebagai benih harus berasal dari buah pala yang benar-benar masak. Buah pala bijinya akan digunakan sebagai benih hendaknya berasal dari pohon pala yang mempunyai sifat-sifat:
- pohon dewasa yang tumbuhnya sehat;
- mampu berproduksi tinggi dan kwalitasnya baik.
Penyemaian biji pala dilakukan dengan cara menanam biji pala sedalam 1 cm dengan jarak 15 cm x15 cm. Penyemaian ini dilakukan di atas bedengan dengan kedalaman olahan sekitar 20 cm, ukuran lebar sekitar 1,5 cm dan panjangnya 5-10 cm, tergantung biji pala yang akan disemaikan. Bedengan dibuat membujur Utara-Selatan. Tanah yang sudah diolah tersebut dicampuri dengan pupuk kandang yang sudah jadi (sudah tidak mengalami fermentasi) secara merata secukupnya supaya tanah bedengan tersebut menjadi gembur. Sekeliling bedengan dibuka selokan kecil yang berfungsi sebagai saluran drainase. Bedengan persemaian juga harus diberi peneduh dari anyaman daun kelapa/jerami dengan ukuran tinggi sebelah Timur 2 m dan sebelah Barat 1 m dengan maksud agar pesemaian hanya terkena sinar matahari pada pagi sampai menjelang siang hari dan pada siang hari yang panas terik itu persemaian itu terlindungi oleh peneduh.
Setelah biji berkecambah yaitu sudah tumbuh bakal batangnya. Maka bibit pada pesemaian tersebut dapat dipindahkan ke kantong polybag yang berisi media tumbuh berupa tanah gembur yang subur dicampur dengan pupuk kandang. Pemindahan bibit dari pesemaian ke kantong polybag harus dilakukan secara hati-hati agar perakarannya tidak rusak. Setelah itu polybag diletakan di tempat yang terlindung dari sinar matahari.
B. Perbanyakan Vegetatif
Perbanyakan vegetatif tanaman pala meliputi:
1. Perbanyakan Dengan Cara Cangkok (Marcoteren)
Perbanyakan tanaman pala dengan cara mencangkok bertujuan untuk mendapatkan tanaman yang mempunyai sifat-sifat asli induknya (pohon yang dicangkok). Pencangkokan ini dilakukan dengan cara Batang/cabang dikelupas kulitnya dengan pisau tajam secara melingkar sepanjang 3–4 cm, lalu lendir/kambium yang melapisi kayu dihilangkan dengan cara disisrik kambiumnya, batang yang akan dicangkok tersebut dibiarkan selama beberapa jam sampai kayunya yang tampak itu kering benar. Ambillah tanah yang gembur dan sudah dicampuri dengan pupuk kandang dalam keadaan basah dan menggumpal. Kemudian tanah tersebut ditempelkan/dibalutkan pada bagian batang yang telah dikuliti berbentuk gundukan tanah. Gundukan tanah tersebut kemudian dibalut dengan sabut kelapa/plastik. Agar tanah dapat melekat erat pada batang yang sudah dikuliti, maka sabut kelapa/plastik pembalut itu diikat dengan tali secara kuat pada bagian bawa, bagian tengah dan bagian atas.
Bila menggunakan pembalut dari palstik, maka bagian atas dan bagian bawah harus diberi lubang kecil untuk memasukkan air siraman (lubang bagian atas) dan sebagai saluran drainase (lubang bagian bawah). Bila pencangkokkan ini berhasil dengan baik, maka setelah 2 bulan akan tumbuh perakarannya sehingga siap ditanam di lapangan.
2. Perbanyakan Dengan Cara Peyambungan (Enten Dan Okulasi)
Sistem penyambungan ini adalah menempatkan bagian tanaman yang dipilih pada bagian tanaman lain sebagai induknya sehingga membentuk satu tanaman bersama. Sistem penyambungan ini ada dua cara, yakni:
- Penyambungan Pucuk (entern, grafting) : Penyambungan pucuk ini ada tiga macam yaitu :
- Enten celah (batang atas dan batang bawah sama besar)
- Enten pangkas atau kopulasi
- Enten sisi (segi tiga)
- Penyambungan mata (okulasi)
Penyambungan mata ada tiga macam yaitu :
- Okulasi biasa (segi empat)
- Okulasi “T”
- Forkert
Setelah 3-4 bulan sejak penyambungan dengan sistem enten atau okulasi itu dilakukan dan jika telah menunjukkan adanya pertumbuhan batang atas (pada penyambungan enten) dan mata tunas (pada penyambungan okulasi), tanaman sudah dapat ditanam di lapangan.
C. Perbanyakan Cara Penyusuan (Inarching Atau Approach Grafting).
Dalam sistem penyusuan ini, ukuran batang bawah dan batang atas harus sama besar (kurang lebih besar jari tangan orang dewasa). Cara melakukannya adalah sebagai berikut:
- Pilihlah calon bawah dan batang atas yang mempunyai ukuran sama.
- Lakukanlah penyayatan pada batang atas dan batang bawah dengan bentuk dan ukuran sampai terkena bagian dari kayu.
- Tempelkan batang bawah tersebut pada batang atas tepat pada bekas sayatan tadi dan ikatlah pada batang atas tepat pada bekas sayatan dan ikat dengan kuat tali rafia.
Dalam waktu 4–6 minggu, penyusuan ini sudah dapat dilihat hasilnya. Jika batang atas daun-daunnya tidak layu, maka penyusuan itu dapat dipastikan berhasil. Setelah 4 bulan, batang bagian bawah dan bagian atas sudah tidak diperlukan lagi dan boleh dipotong serta dibiarkan tumbuh secara sempurna. Jika telah tumbuh sempurna, maka bibit dari hasil penyusuan tersebut sudah dapat ditanam di lapangan.
D. Perbanyakan Cara Stek
Tanaman pala dapat diperbanyak dengan stek tua dan muda yang dengan 0,5% larutan hormon IBA. Penyetekan menggunakan hormon IBA 0,5%, biasanya pada umur 4 bulan setelah dilakukan penyetekan sudah keluar akar-akarnya.
2.17 BELIMBING WULUH (Averhoa belimbi)
Belimbing wuluh merupakan salah satu tanaman obat yang memiliki bentuk batang hampir sama dengan belimbing manis, pembedanya adalah pada bentuk buahnya yang kecil dan berasa asam. Namun walaupun demikian belimbing wuluh banyak diminati. Sebutan nama untuk belimbing wuluh sebenarnya beragam untuk setiap daerah misalnya belimbing wuluh disebut calincing oleh suku sunda, dan lain-lain. Belimbing wuluh mengandung Kaliun dan asam oksalat.
2.17.1 Deskripsi Tanaman Belimbing Wuluh
Tanaman termasuk familia oxalidaceae. Belimbing wuluh memiliki batang yang keras dan tidak banyak bercabang, dengan tinggi mencapai 11 m. Tanaman belimbing wuluh juga memiliki daun yang bersirip genap. Bunga dari belimbing wuluh ini berbentuk bintang dengan warna merah muda atau ungu. Buah belimbing wuluh beruang, berdaging agak tebal dan mengandung banyak air dan rasanya asam. Letak buah bergantung pada batang atau dahan.
2.17.2 Manfaat Belimbing Wuluh
Banyak manfaat yang bisa diambil dari belimbing wuluh ini antara lain sebagai berikut misalnya buah belimbing wuluh bisa dijadikan obat tekanan darah tinggi dan obat jerawat. Penggunaan dilakukan dengan cara buah belimbing wuluh yang besar dan berwarna hijau dihaluskan/diparut, kemudian diambil airnya dan diminum. Daun belimbing wuluh juga bisa dijadikan obat kompres, penggunaan dilakukan dengan cara daun belimbing wuluh ditumbuk bersama bawang putih lalu dikompreskan pada orang yang menderita panas.
2.17.3 Perbanyakan Tanaman Belimbing Wuluh
Perbanyakan tanaman belimbing wuluh bisa dilakukan dengan cara cangkok. Perbanyakan dengan cara ini akan lebih cepat menghasilkan dibandingkan dengan cara perbanyakan generatif.
2.18 TANAMAN SAMBILOTO (Andrographis sp)
Sambiloto termasuk familia Acnthaceae. Dalam pembudidayaannya sebenarnya tanaman sambiloti tidak terlalu sulit yang penting tempat penanamannya berada pada ketinggian 700 m dpl. Tanaman sambiloto memiliki beberapa kandungan kimia antara lain kalmigen, andrograpolit, garam kalium, garam natrium, dan minyak terbang, juga mengandung zat pahit berupa hablur kuning.
2.18.1 Deskripsi Tanaman Sambiloto
Sambiloto merupakan suatu terna yang berdiri tegak. Tinggi pohonnya dapat mencapai 90 cm. Batangnya berbentuk segi empat dan bercabang banyak. Letak daun berhadap-hadapan. Daunnya berupa daun tunggal yang bentuknya memanjang, dengan tepi daun rata. Bunga sambiloto berwarna putih atau ungu,tersusun dalam rangkaian berupa tandan yang tumbuh pada ujung-ujung tangkai. Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun. Bentuk buah memanjang sampai jorong, terdiri dari dua rongga. Setiap rongga berisi 3-7 biji yang bentuknya gepeng.
2.18.2 Manfaat Tanaman Sambiloto
Daun sambiloto bisa mengobati mencret. Pengobatan dilakukan dengan cara daunnya direbus selama lebih kurang ½ jam, kemudian airnya diminum. Selain itu daun sambiloto juga bisa mengobati luka karena gigitan hewan berbisa seperti ular atau hewan berbisa lainnya. Pengobatan dilakukan dengan cara daun sambiloto dikunyah lalu airnya ditelan dan sisanya ditempelkan pada luka.
2.18.3 Perbanyakan Tanaman Sambiloto
Perbanyakan tanaman sambiloto dapat dilakukan dengan menebarkan biji sambiloto atau dengan setek batang dari tanaman sambiloto.
2.19 TANAMAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia)
Tanaman jeruk nipis termasuk familia Rutaceae. Buah jeruk nipis sebenarnya banyak Mengandung asam sitrat yaitu sebesar 7-7,6 %. Selain itu terpadat juga lemak, mineral, Vitamin B 1, dan Vitamin C. Jeruk nipis juga mengandung minyak terbang, antara lain sitral, limonene, fellandren, lemon kamfer, geranil asetat, cadinen dan linanlin asetat.
2.19.1 Deskripsi Tanaman Jeruk Nipis
Tanaman jeruk nipis adalah tanaman dengan bentuk perdu. pohonnya agak tinggi dan banyak mempunyai cabang. Warna bunga putih dengan buah berbentuk bulat sebesar bola pingpong arau sebesar telur itik.
2.19.2 Manfaat Tanaman Jeruk Nipis
Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari tanaman jeruk nipis, misalnya akar jeruk nipis yang direbus selama kurang lebih ½ jam, lalu diambil airnya untuk diminum penderita disentri. Selain itu air perasan jeruk nipis yang dicampur dengan bawang merah dan minyak kelapa dipercayai bisa mengobati batuk dan demam. Getah batang jeruk juga bisa dimanfatkan untuk mengobati sakit tenggorokan.
2.19.3 Perbanyakan Tanaman Jeruk Nipis
Tanaman jeruk nipis sering diperbanyak dengan cangkok, namun perbanyakan dengan penyemain biji juga bisa dilakukan namun kurang diminati karena memerlukan waktu yang cukup lama.
2.20 TANAMAN KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa sinensis sp.)
Tanaman kembang sepatu pada mulanya berasal dari daratan asia, kemudian dibudidayakan di cina tenggara dan daerah pasifik. Tanaman ini mengandung hibiscetin, sedangkan pada batang daunnya didapati Ca Oksalat, peroxidase, lemak dan protein.
2.20.1 Deskripsi Tanaman Kembang Sepatu
Tanaman kembang sepatu adalah tanaman perdu yang seringkali digunakan sebagai pagar hidup. Daunnya berbentuk bulat telur, tepinya bergerigi. Sedangkan warna bunganya beragam, ada yang berwarna merah, merah jingga, merah kesumba, atau putih. Daun mahkota pada pangkalnya berwarna merah tua.
2.20.2 Manfaat Tanaman Kembang Sepatu
Tanaman kembang sepatu juga banyak memberikan manfaat bagi manusia misalnya akarnya yang bisa mengobati sakit panas, air rebusan daun kembang sepatu juga bisa dimanfaatkan untuk obat batuk dan sariawan, air rebusan bunga kembang sepatu bisa mengobati penyakit bronchotis, dan lain-lain.
2.20.3 Perbanyakan Tanaman Kembang Sepatu
Perbanyakan tanaman yang sering dilakukan dengan cara setek batang, cangkok batang, dan penyebaran biji.
2.21 TANAMAN KI URAT (Plantango mayor sp.)
Tanaman ki urat termasuk familia Plantaginaceae. Tanaman ini dapat tumbuh di tempat yang memiliki ketinggian 3300 m dpl dengan daerah yang tanahnya berbatu dan agak lembab. Tumbuhan ki urat ini mengandung rhinantin yaitu suatu turunan dari naphazolin yang berkhasiat sebagai adrenergik agent. Juga terdapat lendir, glikosida aukubin, invertin, emulsin, vitamin c, asam sitrat, tanian, garam kalium dan kholin.
2.21.1 Deskripsi Tanaman
Tumbuhan kiurat memiliki batang yang basah dan tingginya dapat mencapai 80 cm. Daunnya berbentuk bulat telur dengan bunganya berwarna coklat kemerahan atau kuning keabu-abuan, berakar serabut.
2.21.2 Manfaat Tanaman
Beberapa manfaat yang bisa diambil dari tanaman ki urat ini sebagai berikut:
Biji tanaman ki urat digiling halus lalu dilarutkan dalam anggur kemudian diminum sehingga dapat dipergunakan sebagai obat disentri dan tonikum (obat kuat).
Bagian tanaman ditambah dengan keji bening kemudian direbus, airnya dapat diiminum sebagai obat batu ginjal atau kandung kemih.
Seluruh bagian tanaman digerus (digilas) untuk dipergunakan sebagai obat kompres karena kena gigitan serangga dan kena gigitan ular.
2.21.3 Perbanyakan tanaman
Tanaman ini memang belu banyak dibudidayakan, namun walaupun demikian tanaman ini dapat diperbanyak dengan cara penyebaran biji.
2.22 TANAMAN SIRIH (Piper betle sp.)
Tanaman sirih termasuk famili Piperaceae. Tanaman ini memiliki banyak kandunga kimia misalnya cadinen, chavicol, eugenol metil eter, caryophyllen dan etilbrenzcatechin. Selain itu sirih juga mengandung zat samak, enzim diastase, gula dan vitamin A serta chavibetol dan allipyrocathecol.
2.22.1 Deskripsi Tanaman Sirih
Sirih merupakan tanaman yang merambat pada pohon-pohon, pagar, atau para-para. Bentuk daun ujungnya lancip dan bertulang daun teratur. Akarnya menyebar lebar ketanah secara merata. Tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 5-700 m dpl.
2.22.2 Manfaat Tanaman Sirih
Banyak manfaat yang bisa diambil dari tanaman sirih ini anatara lain daun sirih yang diseduh dengan air panas bisa digunakan sebagai obat bau mulut, perdarahan gusi yang baru dicabut, dan keputihan pada wanita. Daun sirih yang masih segar bisa digunakan untuk menyumbat hidung sebagai obat hidung yang berdarah (mimisan). Selain itu daun sirih yang dihangatkan pada api dan dikompres pada payudara dapat mengurangi roduksi air susu yang berlebihan.
2.22.3 Perbanyakan Tanaman Sirih
Perbanyakan tanaman sirih pada umumnya dilakukan dengan cara penyetekan pada batang atau dengan jalan membuat tiang dari bambu untuk tempat merambat tanaman sirih.
2.23 TANAMAN MELATI (Jasminum sambac sp.)
Selama ini tanaman melati hanya dikenal dengan tanaman hias, namun banyak orang yang tidak mengetahui bahwa sebenarnya tanaman melati banyak mengandung bahan kimia yang bersifat obat.
2.23.1 Klasifikasi Tanaman Melati
Tanaman melati termasuk suku melati-melatian atau famili Oleaceae. Kedudukan tanaman melati dalam sistematika/taksonomi tumbuhan adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Oleales
Famili : Oleaceae
Genus : Jasminum
Spesies : Jasminum sambac (L) W. Ait..
2.23.2 Deskripsi Tanaman Melati
Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun. Beberapa jenis tanaman melati beserta deskripsinya adalah sebagai erikut:
a) Jasminum sambac. Ait
Melati ini biasanya dikenal dengan melati Arab, tapi berasal dari India. Tanaman berbentuk semak dan hanya bisa tumbuh baik di luar ruangan, daerah terbuka, dan terkena sinar matahari penuh. Tinggi tanaman bisa mencapai sekitar 2,5 Cm. Batang agak membentuk segi empat. Bentuk bunga ganda (bertumpuk dua) dan ada juga yang agak tumpul. Bunga berwarna putih dan berubah menjadi keungu-unguan. Bila semakin tua, aroma bunga akan semakin harum. Bunga muncul dalam bentuk kelompok dan tiap kelompok terdiri dari 12 individu.
Daun berada pada posisi yang bertentangan dengan permukaan mengkilap, berbentuk oval, atau elips.
b) Jasminum grandiflorum Linn.
Melati ini biasanya disebut dengan melati Spanyol. Tanaman tumbuh agak merambat, bentuk daun hampir sama dengan Jasminum officinale . Kedudukan daun saling bertentangan, umumnya terdiri dari 7 anak daun, bertekstur halus, dan berwarna hijau terang.
Bunga merupakan bunga tunggal namun aromanya sangat harum. Pada saat bunga masih kuncup bunga berwarna pink, tapi setelah mekar akan berubah menjadi putih. Apabila berbunga akan menghasilkan bunga yang sangat banyak. Tinggi tanaman maksimum 1,5 M. Dapat ditanam di dalam pot dengan pertumbuhan hampir sama dengan bila ditanam di lapangan.
c) Jasminum grandiflorum Linn.
Disebut juga melati putih, melati manis, atau pada umumnya disebut juga dengan melati. Kedudukan daunnya berlawanan dengan jumlah anak daun mencapai 9 helai. Panjang anak daun sekitar 6,5 Cm dan lebar 1,5 Cm. Warna daun hijau gelap dengan anak daun paling ujung berukuran lebih besar dan lancip dari lainnya. Bunga terletak diujung dan tersusun berupa kelompok, terdiri dari 3-5 bunga tunggal dalam setiap kelompoknya. Panjang bunga sekitar 1,4 Cm, berwarna putih membentuk tabung dengan mulut lebih lebar.
Jenis melati ini tumbuh merambat dan bisa mencapai ketinggian 12-15 M. Dengan pertumbuhan yang cepat, melati ini sangat ideal untuk dirambatkan di dinding yang menghadap ke matahari, di atas atap rumah, dan sebagainya.
2.23.3 Manfaat Tanaman Melati
Bunga melati banyak memiliki manfaat yaitu selain untuk dinikmati keindahannya, bunga melati juga dimanfaatkan untuk pewangi teh, sebagai bahan kosmetik, dan saat ini melati digunakan sebagai aromatherapy sebagai obat penghilang stress dan dapat menghaluskan kulit.
2.23.4 Perbanyakan Tanaman Melati
Tanaman melati dapat diperbanyak dengan cara cangkok batang, setek, rundukan, atau dengan okulasi batang.
2.24 TANAMAN JAWER KOTOK (Coleus scutellarioides L.)
2.24.1 Deskripsi Tanaman Jawer Kotok
Tanaman jawer kotok memiliki batang yang berbentuk segi empat dengan alur yang agak dalam pada sisi-sisinya dan pada kulit batangnya terdapat bulu-bulu. Daun tanaman jawer kotok berbentuk jorong sampai bulat memanjang, pangkal daun berlekuk seperti bentuk jantung denga tepi rata sampai beringgit. Bunga tanaman jawer kotok tumbuh menggantung pada ujung-ujung tangkai dan tersusun dalam rangkaian yang berbentuk malai. Bunganya berwarna ungu atau merah kuning. Buah tanaman jawer kotok keras dan berbentuk setengah bola.
2.24.2 Manfaat Tanaman Jawer Kotok
Tanaman jawer kotok dipercayai bisa mengobati bisul yang belum pecah. Penggunaannya dilakukan dengan cara memanaskan daun jawer kotok yang telah diolesi minyak kelapa diatas api, setelah itu daun jawer kotok ditempelkan pada bisul agar lekas pecah.
2.24.3 Teknik Perbanyakan
Perbanyakan tanaman jawer kotok sering dilakukan dengan cara stek batang atau menggunakan biji.
2.25 TANAMAN NANANGKAAN (Euphorbia hirta L.)
2.25.1 Deskripsi Tanaman Nanangkaan
Tanaman Nanangkaan memiliki batang yang bercabang dan bergetah. Daun Nanangkaan berbentuk bulat memanjang dengan bagian tengah terdapat noda yang berwarna nila. Letak daun nanangkaan saling berhadapan. Bunga nanangkaan tumbuh pada ketiak-ketiak daun. Buah nanangkaan berbulu dan bila buah telah masak, maka buah akan pecah dan bijinya terpencar keluar. Biji-biji dari buah nanangkaan berbentuk bulat memanjang, dengan warna merah cokelat.
2.25.2 Manfaat Tanaman Nanangkaan
Tanaman nanangkaan bermanfaat untuk mengobati penyakit asthma dan bronkhitis. Cara pemanfaataannya dilakukan dengan cara merebus batang dan daun nanangkaan secukupnya, lalu air rebusan tersebut diminum oleh penderita asthma dan bronchitis tersebut.
2.25.3 Cara Perbanyakan
Tanaman nanangkaan seringkali diperbanyak hanya dengan cara generatif yaitu perbanyakan menggunakan biji.
2.26 TANAMAN LENGKUAS (Lengusa galanga/ Alpinia galanga)
Tanaman lengkuas merupakan salah satu tanaman herba yang mengandung Zerumbion, yaitu suatu senyawa yang berkhasiat sebagai anti kejang, juga didapati adanya limonen. Beberapa hal tentang lengkuas sebagai berikut.
2.26.1 Deskripsi Tanaman Lengkuas
Tanaman lengkuas memiliki batang semu, tegak, dan berwarna hijau dengan ketinggian mencapai 1 m. Daun lengkuas berbentuk lanset dan berkelopak panjang menutupi batang. Bunga lengkuas muncul pada bagian ujung tanaman dengan warna kuning atau agak kuning. Tanaman lengkuas memiliki buah yang berbentuk kotak beruang tiga.
Akar lengkuas adalah serabut. Rimpangnya tumbuh mendatar berbentuk umbi. Rimpang tampak berbuku-buku berwarna kuning keabu-abuan dan mengkilai. Induk rimpang berbentuk bulat atau silindris. Rimpang ranting silindris tumbuh ke kanan dan ke kiri dari rimpang cabang.
2.26.2 Manfaat Tanaman Lengkuas
Tanaman lengkuas seringkali digunakan sebagai penyedap masakan (rimpang umbi putih) sedangkan rimpang merah digunakan sebagai bahan ramuan jamu tradisional. Tanaman ini mengandung banyak senyawa kimia yang terdiri dari minyak atsiri, minyak terbang, eugenol, seskuiterpen, pinen, metil sinamat, galangan dan kristal putih sehingga dapat memantau dalam proses penyembuhan berbagai penyakit antara lain rematik, panu, bronkitis, membangkitkan nafsu makan, sebagai pengempuk daging.
2.26.3 Cara Perbanyakan Tanaman Lengkuas
Perbanyakan tanaman lengkuas seringkali dilakukan dengan cara vegetatif yaitu dengan menggunakan stek rimpang.
2.27 TANAMAN KECIBELING (Hemigraphis alternata (Burm. F.) T Anders).
Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang tanaman kecibeling adalah sebagai berikut.
2.27.1 Deskripsi Tanaman Kecibeling
Tanaman kecibeling memiliki batang yang merambat dengan tinggi bisa mencapai 75 cm, seluruh permukaan batangnya ditutupi oleh bulu-bulu halus. Permukaan daunnya bagian atas berwarna hijau tua, sedangkan permukaan daun bagian bawahnya berwarna kelabu. Bunga tanaman kecibeling tumbuh pada ketiak-ketiak daun dengan warnan putih.
2.27.2 Manfaat Tanaman Kecibeling
Tanaman kecibeling seringkali digunakan untuk obat sakit batu ginjal (kristal batu yang terdapat didalam ginjal).
2.27.3 Cara Perbanyakan Tanaman Kecibeling
Perbanyakan tanaman kecibeling seringkali dengan menggunakan cara vegetatif yaitu dengan menggunakan stek batangnya dan dengan cara generatif yaitu dengan menggunakan bijinya. Untuk tumbuhan baru yang sedang tumbuh perlu dibuatkan rambatan atau dirambatkan pada tumbuhan tegak yang ada didekatnya .
2.28 MENGKUDU (Marindra citrifolia)
Beberapa hal yang perlu kita ketahui tentang tanaman mengkudu adalah sebagai berikut.
2.28.1 Deskripsi Tanaman Mengkudu
Tanaman mengkudu memiliki batang dengan ukuran tidak begitu besar dibandingkan tanaman tahunan lainnya. Tinggi batang 4-6 m bentuk batang umumnya bengkok, berdahan kaku, kulit batang kasar, berwarna coklat keabu-abuan/coklat kekuningan dan tidak berbulu. letaknya berhadap-hadapan, bentuk bulat telur sampai lanset (lonjong dan ujungnya runcing).
Daun mengkudu memiliki tepi yang bergelombang dan ujung daunnya lancip. Urat daun menyirip, dengan warna daun hijau menkilap dan tidak berbulu. Bunga tanaman mengkudu tumbuh diketiak daun, berkelamin dua, benang sari tertancap di mulut mahkota, kepala berputing dua. Bunga mekar dari kelopak seperti tandan berwarna putih, kecil, harum dan bergerombol. Kelopak bunga tumbuh menjadi buah berbentuk bulat lonjong seperti telur ayam diameter 7,5 – 10 cm. Permukaan buah persegi banyak/terbagi dalam sel-sel polygonal berbintik-bintik dan berkulit. Pada awalnya buah berwarna hijau lalu menjelang masak menjadi putih kekuningan. Setelah masak warna putih transparan dan lunak. Daging buah berbentuk piramid berwarna coklat merah.
2.28.2 Manfaat Tanaman
Kulit akar tanaman mengkudu sering digunakan sebagai zat pewarna, daunnya sebagai pelengkap bumbu ikan pepes, akar dan Kulit batangnya sebagai obat penawar gangguan perut, dan buahnya sebagai tanaman obat alternatif seperti obat darah tinggi, obat jantung, dan obat asam urat..
2.28.3 Cara Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan tanaman mengkudu bisa dilakukan dengan cara generatif yaitu dengan enam biji mengkudu dan vegetatif melalui stek.
2.29 TANAMAN DAUN DEWA (Gynura segetum L.)
Tanaman daun dewa memiliki kandungan Kimia berupa saponin, minyak atsiri, dan flavonoid. Beberapa hal mengenai tanaman daun dewa ini sebagai berikut.
2.29.1 Deskripsi Tanaman Daun Dewa
Tanaman ini memiliki batang yang apabila masih muda berwarna hijau dengan alur memanjang warna tengguli, dan telah agak tua berwarna coklat dan bercabang banyak. Tanaman daun dewa berdaun tunggal mempunyai tangkai, bentuk daun bulat telur sampai bulat memanjang, dan ujungnya lancip, daun terletak diujung batang dengan warna kuning berbentuk bonggol (kepala bunga).
2.29.2 Manfaat Tanaman Daun Dewa
Tanaman daun dewa seringkali digunakan sebagi obat luka terpukul, melancarkan sirkulasi, menghentikan pendarahan, mimisan, muntah darah, pembengkakan payudara, tulang patah dan lain-lain.
2.29.3 Cara Perbanyakan Tanaman Daun Dewa
Perbanyakan tanaman daun dewa seringkali dengan cara stek batang.
2.30 TANAMAN GANDA RUSA (Justicia gendarussa)
Beberapa hal mengenai tanaman ganda rusa ini sebagai berikut.
2.30.1 Deskripsi Tanaman Ganda Rusa
Tanaman ganda rusa memiliki bentuk seperti semak, tumbuhnya tegak dan tinggi dapat mencapai 2 m. Daun ganda rusa terletak berhadapan dan berupa daun tunggal yang berbentuk lanset dengan panjang 5-20 cm, lebar 1-3,5 cm, tepinya rata, ujung daun meruncing dan warna daun hijau gelap. Bunga ganda rusa berbentuk kecil, berwarna putih atau dadu yeng tersusun dalam rangkaian berupa malai/bulir yang menguncup. Buahnya berbentuk bulat panjang.
2.30.2 Manfaat Tanaman Ganda Rusa
Tanaman ganda rusa ini berkhasiat untuk mengobati luka terpukul (memar), tulang patah, rheumatik, bisul, borok, dan koreng.
2.30.3 Cara Perbanyakan Tanaman Ganda Rusa
Perbanyakan tanaman daun dewa seringkali dengan cara stek batang.
2.31 TANAMAN PATAH TULANG (Euphorbia tirucali L.)
Tanaman patah tulang memiliki beberapa Kandungan Kimia yaitu, getahnya mengandung senyawa euporbone, taraksasterol, euphol, senyawaan damar yang menyebabkan rasa tajam ataupun kerusakan pada selaput lendir, kautschuk (zat karet) dan zat pahit. Beberapa hal mengenai tanaman daun dewa ini sebagai berikut.
2.31.1 Deskripsi Tanaman Patah Tulang
Tanaman patah tulang ini tumbuh berbentuk perdu, tumbuh tegak, tinggi mencapai 2-6 m, pangkalnya berkayu dan banyak cabang serta bergetah sepertu susu yang beracun. Setelah tumbuh maka tangkai akan tumbuh sekitar satu jengkal dan akan segera bercabang dua jengkal yang letaknya melintang. Patah tulang memiliki ranting bulat silindris berbentuk pensil, beralur halus membujur, dan warnanya hajau.
Tanaman patah tulang memiliki yang jarang dan terdapat pada ujung ranting yang masih muda, kecil-kecil, bentuknya lanset, panjang 7-25 mm, dan cepat rontok. Bunga tanaman terdapat diujung batang berupa bunga majemuk yang tersusun seperti mangkok, dan warnanya kuning kehijauan.
2.31.2 Manfaat Tanaman Patah Tulang
Tanaman patah tulang bermanfaat untuk mengobati sakit lambung, rheumatik, sifilis, wasir, tukak rongga hidung, nyeri syaraf, penyakit kulit,dan kusta.
2.31.3 Cara Perbanyakan Tanaman Patah Tulang
Perbanyakan tanaman patah tulang biasanya dilakukan dengan menggunakan stek batang dan penyebaran biji tanaman.
2.32 TANAMAN TAPAK DARA (Catharanthus roseus L.)
Beberapa hal mengenai tanaman tapak dara ini sebagai berikut.
2.32.1 Deskripsi Tanaman Tapak Dara
Tanaman tapak dara tumbuh tegak dan banyak memiliki cabang dengan tinggi mencapai 120 cm. Batangnya berkayu pada bagian bawah, berbentuk bulat dan berwarna merah tengguli, serta terdapat rambut/bulu halus. Daunnya agak tebal tersusun berhadapan bersilang, bentuk bulat telur, pangkal meruncing, bertangkai, dan kedua permukaan daun berrambut halus. Bunga tanaman tapak dara berbunga majemuk. Bunga tapak dara keluar dari ujung tangkai dan ketiak daun dengan lima helai mahkota bunga. Bentuk bunga seperti terompet, berwarna putih, ungu, atau putih dengan warna merah ditengahnya. Buah tanaman berbentuk seperti buah bumbung berbulu berisis banyak biji yang berwarna hitam yang menggantung pada batang.
2.32.2 Manfaat Tanaman Tapak Dara
Tanaman tapak dara banyak dimanfaatkan sebagai obat anti kanker, obat penenang, penyejukkan darah, menghentikan pendarahan, kencing manis, hipertensi dan leukimia.
2.32.3 Cara Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan tanaman ini bisa dilakukan dengan menggunakan biji, stek batang, dan akar.
2.33 TANAMAN TEMBELEKAN (Lantana camara L.)
Tanaman ini memiliki Kandungan kimia berupa lantadene A (0,31-0,68%), lantadene B (0,2%), lantanolic acid, lantic acid, humulene, (mengandung minyak menguap 0,16-0,2%), dan caryophyllene. Beberapa hal mengenai tanaman tembelekan ini sebagai berikut.
2.33.1 Deskripsi Tanaman Tembelekan
Tanaman tembelekan berbentuk perdu tegak setengah merambat, bercabang banyak, rantingnya berbentuk segi empat, beberapa varietas ada yang berduri, tinggi tanaman mencapai kurang lebih 2 m.
Tanaman tembelekan memiliki Daun tunggal yang duduk berhadapan dan berbentuk bulat telur ujungnya meruncing dan bagian pinggirnya bergerigi tulang daun menyirip, permukaan atas berambut banyak terasa kasar dengan perabaan permukaan bawah berambut jarang. Bunganya berada dalam rangkaian yang bersifat rasemos mempunyai warna putih, merah muda, jingga kuning, dan sebagainya. Buahnya seperti buah buni berwarna hitam mengkilat bila sudah matang.
2.33.2 Manfaat Tanaman Tembelekan
Tanaman ini bermanfaat sebagai obat influenza, TBC kelenjar, rheumatik, keputihan, TBC dengan batuk darah, asthamatis, obat sakit kulit, bisul, bengkak, gatal-gatal, panas tinggi, dan memar.
2.33.3 Cara Perbanyakan Tanaman Tembelekan
Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan menggunakan biji dan stek batang.
2.34 TANAMAN JARAK (Jatropha curcas L.)
Beberapa hal mengenai tanaman jarak sebagai berikut.
2.34.1 Deskripsi Tanaman Jarak
Pada batang tanaman jarak biasanya terdapat tonjolan-tonjolan bekas daun yang gugur, kulit batang licin dan mempunyai getah yang berwarna putih yang agak keruh. Daun jarak adalah daun tunggal dengan permukaan atas helai daun berwarna hijau dan permukaan bawah berwarna lebih pucat. Bentuk daun bulat telur melebar dengan panjang helaian 5-15 cm, dan lebarnya 6-16 cm. daunya bersudut atau berlekuk 3-5. pangkal daun berbentuk jantung pangkal daun meruncing. Tulang utama menjari dengan 5-7 garis. Panjang tangkai daun 3,5-15 cm. Bunganya berwarna hijau kekuningan,berkelamin tunggal dan berumah satu. Baik bunga jantan maupun bunga betina masing-masing tersusun dalam rangkaian berupa cawa. Buahnya berbetuk bulat dengan diameter 3-4 cm, bila msak berwarna kuning yang terbagi dalam 3 ruangan, masing-masing terdiri dari satu biji berwarna hitam, bila kering akan retak-retak.
2.34.2 Manfaat Tanaman Jarak
Tanaman jarak bermanfaat untuk mengobatai bengkak terpukul, terkilir, tulang patah, luka berdarah, gatal-gatal, eczema, jamur pada kaki, lepra, borok, penyubur rambut, dan rheumatik.
2.34.3 Cara Perbanyakan Tanaman
Perbanyakan tanaman bisa dilakukan dengan menggunakan stek batang.
III. PENUTUP
Dari uraian tentang beberapa jenis tanaman obat pada halaman- halaman sebelumnya, maka penulis berharap agar karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
DAFTAR PUSTAKA
- Afriastini, J.J. 1988. Bertanam Kencur. Penebar Swadaya, Jakarta.
- Anonim. 1999. Mengenal Budidaya Jahe dan Prospek Jahe. Koperasi Dasar El-Kutub, Jakarta.
- Atjung. 1981. Tanaman Obat dan Minuman Segar. CV. Yasaguna, Jakarta
- Cahyono, Bambang. 2001. Jambu Mete. Kanisius, Yogyakarta.
- Hieronymus, B.S. 1991. Kapulaga. Kanisius, Yogyakarta.
- Kartasapoetra, G. 1988. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Bina Aksara, Jakarta.
- ————————. 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat: kunyit (kunir). PT. Rineka Cipta, Jakarta.
- Rismunandar. 1986. Tanaman Jambu Biji. Sinar Baru, Bandung.
- ——————-. 1987. Budidaya Dan Tata Niaga Pala. Penebar Swadaya, Jakarta.
- Rukmana, Rakhmat. 1995. Tanaman Rempah Dan Obat Temulawak. Kanisius, Yogyakarta.
- Rukmana, Rahmat . Kumis Kucing. Kanisius, Yogyakarta.
- Sugeng, HR. 1996. Tanaman Apotik Hidup. Aneka Ilmu, Semarang.
- Tampubolon, Oswald T. 1981. Tumbuhan Obat. Bhratara Karya Aksara, Jakarta.
- Taufik H, Tadjoedin. 2002. Mengebunkan Mengkudu. Pustaka, Jakarta.
No trackbacks yet.